Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri c.q.
Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA), didukung oleh Direktorat Sejarah dan
Permuseuman Kementerian Kebudayaan, untuk pertama kalinya menyelenggarakan Workshop
Edukator Museum di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri
(Pusdiklat Kemlu), Jakarta, pada 18-22 Mei 2026.
Kegiatan ini mempertemukan 26 edukator dari 12 museum di
Jakarta dan dua museum di Bandung, serta dua orang relawan dari komunitas
Sahabat MKAA.
Dari Workshop, peserta memperoleh
pemahaman mengenai standar kompetensi edukator museum
dan teknik public speaking dalam pemanduan, serta berlatih menyusun program publik dengan sudut pandang partisipatif dan
inklusif.
Sejalan dengan mandat Peraturan Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 24 Tahun 2022, Workshop bertujuan mengembangkan kompetensi edukator museum dan sebagai
langkah awal menuju sertifikasi edukator museum.
Dalam sambutannya sebagai tuan rumah kegiatan, Plh. Direktur Diplomasi Publik Ika
Silalahi menyampaikan harapan agar workshop dapat membekali peserta
dalam menyusun program publik yang berdampak.
Direktur Sejarah dan Permuseuman Prof. Agus Mulyana, yang
juga merupakan sejarawan terkemuka Indonesia, menegaskan pentingnya peran
edukator sebagai penghubung antara museum dengan pengunjung melalui program
edukasi yang mampu membentuk karakter bangsa.
Tiga narasumber ahli yang dihadirkan oleh Direktorat
Sejarah dan Permuseuman memberikan perspektif baru bagi para peserta. Asesor LSP P2 Kebudayaan, Dedah Rufaedah menjelaskan menjelaskan
standar kompetensi tenaga teknis edukator sesuai Keputusan
Menteri Ketenagakerjaan No. 88 Tahun 2021, dilanjutkan dengan Ketua Ikatan Pemandu
Indonesia Amat Kusaini Al Alex yang memperkuat peserta dengan teknik public
speaking dalam pemanduan dan penyampaian informasi koleksi. Antropolog dan
pegiat museum Hilman Handoni melatih peserta untuk menyusun rencana program
edukasi di museum dari perspektif penerima layanan.
Tidak hanya materi dari tiga narasumber, para peserta juga meninjau penerapan program publik dari Museum Bank Indonesia (MuBI) dan Museum Nasional
Indonesia (Musnas). Di MuBI, para peserta mempelajari pendekatan pembentukan program publik berdasarkan demografi pengunjung. Dari Musnas yang menggunakan pendekatan partisipatif, peserta mempelajari pelayanan publik yang dibangun bersama sejumlah komunitas,
seperti workshop karya seni bersama Titik Satu Project atau pagelaran
seni bersama Aniwayang, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk kepuasan pengalaman berkunjung, seperti pengembangan
ImersifA.
Di akhir Workshop, seluruh peserta secara
berkelompok menyusun rancangan program publik yang kreatif, tidak monoton, dan
mengangkat keunggulan masing-masing museum yang selama ini belum terekspos. Hasil kolaborasi singkat ini adalah rancangan program publik
yang berorientasi pada keunggulan
nilai setiap museum, keragaman demografi pengunjung, dan pendekatan inklusif.
Peserta dari Museum Gedung Sate Bandung mengapresiasi
pelaksanakan workshop, terlebih untuk peserta yang baru berkecimpung di
dunia permuseuman. Peserta dari Museum Toeti Heraty Jakarta juga
mengekspresikan harapan agar dapat
dilaksanakan kegiatan serupa dalam waktu yang
lebih lama, dengan output sertifikasi.
Workshop ditutup oleh Kepala MKAA dengan harapan bahwa
rancangan kolaborasi program publik para peserta dapat terwujud dalam
kolaborasi nyata antar museum di tahun mendatang.
