...

Konferensi Asia-Afrika 1955 merupakan salah satu momen penting dalam capaian diplomasi Indonesia. Hanya berselang sepuluh tahun setelah kemerdekaan, Indonesia berhasil menunjukkan peran strategisnya dalam mendorong perdamaian, solidaritas dan kerja sama antar bangsa. Dari Bandung, Konferensi Asia-Afrika menggema ke seluruh penjuru dunia, memberikan inspirasi dan semangat bagi perjuangan kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika, hingga merubah tatanan hubungan internasional kala itu.

Untuk menjaga nyala Semangat Bandung, pada peringatan 25 tahun Konferensi Asia-Afrika di tahun 1980, Pemerintah Indonesia meresmikan pendirian Museum Konperensi Asia-Afrika yang bertempat di sisi timur kompleks Gedung Merdeka.

Sejak 1986, Museum KAA dikelola oleh Kementerian Luar Negeri. Mulai 2003, Museum KAA ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Informasi, Diplomasi Publik, dan Perjanjian Internasional (kini bernama Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik) dan berada di dalam koordinasi Direktorat Diplomasi Publik. Sejak saat itu, Museum KAA menjadi instrumen diplomasi publik dan sarana promosi Semangat Bandung.

Museum KAA merupakan salah satu Unit Penyelenggara Pelayanan Publik pada Kementerian Luar Negeri. Seluruh layanan publik Museum KAA bebas biaya (gratis).

Selain bertujuan untuk mengabadikan sejarah KAA, Museum KAA juga memfasilitasi kunjungan bagi program pendidikan, penelitian, atau peningkatan kerja sama dan pemahaman antar bangsa Asia-Afrika. Di area Museum KAA dengan luas mendekati 1.000 m2, terdapat Ruang Pameran Tetap, Perpustakaan Khusus, Ruang Audio Visual, serta Ruang Serba Guna yang umum digunakan untuk program publik.

Dalam menjalankan tugas dan fungsi di bidang pelayanan publik, Museum KAA menyadari peran penting partisipasi publik bagi kesuksesan pemberian layanan, mulai dari proses perencanaan, penentuan kebijakan, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi.

Sahabat Museum KAA (SMKAA) menjadi salah satu contoh nyata partisipasi publik dalam pelayanan publik Museum KAA. Melalui inovasi “Jarum Pentul” (Jadi Relawan Museum itu Penting dan Gaul), Museum KAA berhasil masuk sebagai Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2018. Implementasi kerelawanan SMKAA diterjemahkan dalam bentuk kegiatan, hingga keterlibatan relawan dalam pelayanan Museum bagi pengunjung di akhir pekan.

Komitmen Museum KAA untuk terus memperbaiki kinerja pelayanan publik telah mengantarkan Museum KAA menerima penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB) sebagai Unit Penyelenggara Pelayanan Publik kategori Pelayanan Prima Lingkup Kementerian/Lembaga tahun 2022.

Salah satu komitmen Museum KAA tercermin melalui penyusunan dan penerapan Standar Pelayanan Publik sejak 2022, yang menjadi acuan bagi petugas museum dalam memberikan layanan sekaligus rujukan bagi publik dalam mengakses layanan.

Dengan adanya Standar Pelayanan, Museum KAA berupaya menjaga kesesuaian antara ketentuan yang ditetapkan dengan pelayanan yang diterapkan. Penerapan Standar Pelayanan juga bertujuan untuk memastikan akuntabilitas pelayanan publik Museum KAA bagi masyarakat.

Museum KAA juga menyadari peran museum sebagai ruang belajar yang berdampak dan bermakna. Untuk memastikan peran tersebut terjangkau dengan baik oleh publik, Museum KAA secara berkala melaksanakan evaluasi atas Standar Pelayanan Publik, berdasarkan masukan publik melalui Survey Kepuasan Masyarakat (SKM).

Evaluasi atas Standar Pelayanan dan SKM dikemas dalam pelaksanaan Forum Konsultasi Publik (FKP) dengan melibatkan perwakilan unsur masyarakat yang berkepentingan atau menerima dampak langsung dari pelayanan publik Museum KAA. Melalui mekanisme ini, Museum KAA dapat secara langsung mendengarkan pengalaman dan penilaian pemangku kepentingan sebagai dasar untuk perbaikan layanan mendatang.

Melalui pelayanan publik yang dapat diakses secara gratis, terstandar, dan terevaluasi secara berkala, Museum KAA berupaya menjalankan perannya sebagai ruang diplomasi publik yang membumi, dan sebagai tempat bertemunya sejarah, nilai, dan interaksi publik secara nyata.

 

Sumber: Museum KAA