Pada April 1955, Bandung tidak hanya
menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin Asia dan Afrika. Selama sepekan, kota
ini berubah menjadi denyut nadi komunikasi dunia.
Ratusan insan pers dari 32 negara hadir
di Bandung, membawa mesin tik dan kamera, menjadikan kota ini pusat perhatian
internasional. Menurut catatan Pemerintah Republik Indonesia, 187 jurnalis dan
juru foto dari dalam negeri, serta 305 jurnalis dan juru foto dari luar negeri,
hadir di Bandung untuk meliput jalannya konferensi pertama antar benua.
Sejumlah jurnalis besar lintas negara
meliput langsung dari Bandung. Indonesia terwakili oleh Rosihan Anwar, B.M Diah,
dan Adam Malik; Amerika Serikat menugaskan Marguerite Cartwright dan Richard
Wright; Eropa diwakili oleh Lucien Bodard dan Vincent Shean; sementara Australia
menghadirkan Wilfred Burchett untuk mewartakan
Konferensi Asia-Afrika (KAA).
Asian African Conference Bulletin mencatat betapa padatnya arus informasi
dari Bandung. Setiap hari, para koresponden mengirim berita melalui kabel dan
sistem morse dalam jumlah yang luar biasa. Bulletin mencatat sekitar 95
kabel terkirim setiap hari, dengan rata-rata total 180.000 kata. Pada puncak pemberitaan,
informasi yang terkirim mencapai hingga 280.000 kata per hari. Tingginya jumlah
kata yang disusun para jurnalis menggambarkan tingginya perhatian dunia
terhadap Konferensi Bandung. Sebagai perbandingan, menurut analisa Chartbeat,
jumlah kata per artikel berita di tahun 2020 adalah sekitar 380 kata.
Sejak pagi hingga larut malam,
ruang-ruang hotel dan kantor telegraf sibuk dengan aktivitas para jurnalis. Lima
titik utama simpul pengiriman informasi KAA yaitu Kantor Pos Besar, Gedung
Merdeka, Gedung Dwi Warna, Hotel Homann, dan Hotel Preanger. Dari lima lokasi
ini jutaan kata mengalir selama sepekan,
melintasi kabel dan jaringan komunikasi internasional. Pada masa belum tersedianya
internet dan satelit komunikasi modern, intensitas informasi ini menunjukkan
tingginya cakupan peliputan.
Selain berita tertulis, gelombang radio
membawa suara Bandung ke berbagai penjuru dunia. Sepuluh perusahaan penyiaran dari
delapan negara memperoleh fasilitas untuk mentransmisikan laporan langsung atau
siaran rekaman ke negara masing-masing. Stasiun radio dari Australia, Inggris,
India, Pakistan, Sri Lanka, Jepang, Mesir, hingga Amerika Serikat terhubung
dalam jaringan siaran tersebut. Sementara itu, Radio Republik Indonesia
menyiarkan berita dan komentar langsung dari ruang Konferensi ke seluruh
penjuru Tanah Air, serta menyediakan siaran dalam Bahasa Inggris, Hindi, Urdu,
Mandarin, dan Arab untuk pendengar internasional.
Di luar ruang sidang, aktivitas
jurnalistik berjalan tanpa jeda. Para pewarta bergegas dari sesi pleno dan
komite ke ruang konferensi pers, lalu kembali ke meja kerja sementara mereka di
hotel. Para juru foto menangkap momen dan ekspresi para delegasi saat berjabat
tangan, berbincang santai, atau menyampaikan pidato bersejarah. Di hari
berikutnya, foto mereka menghiasi halaman depan surat kabar di berbagai negara.
Selama sepekan KAA, Bandung menjadi
pusat lalu lintas berita dunia. Setiap pidato, gerak tubuh, dan pernyataan diplomatik
diterjemahkan menjadi berita dalam puluhan bahasa yang dibaca jutaan penduduk
dunia. Semangat solidaritas Asia-Afrika bergerak dari ruang sidang, melintasi kabel
telegraf dan gelombang radio, menjangkau masyarakat global.
Konferensi Asia-Afrika 1955 membuktikan bahwa diplomasi perlu berjalan berdampingan dengan komunikasi publik. Gaung KAA adalah cerminan keberhasilan para jurnalis menghadirkan Bandung di hadapan dunia. Melalui kerja tanpa henti para jurnalis dan juru foto, Semangat Bandung tetap hidup dalam berita, suara, dan gambar yang melintasi waktu dan batas negara.
Sumber: Museum KAA
